Kamis, 31 Maret 2011

Cowok Charming itu..

Ku tulis sedikit tentangnya.
Seorang  cowok bersepatu converse, berwajah charming dan bekas luka dialisnya.
Dia yg membuatku terpesona.
Tawanya, Diamnya dan senyumnya selalu membuatku terpesona oleh indahnya.
Selalu ku perhatikan gelagatnya, gerak – geriknya di mana pun dia berada.
Dingin mungkin itu yg bsa ku ucapkan dari salah satu sifatnya.
Cuek dan Fleksibel.
Mungkin sifat dingin dan misteriusnya itu yg bkin aku interested.
Cara dia berpakaian, dan seragam sekolahnya.
Seolah tiada habis cerita tentangnya.
Dia yg membuatku terpesona oleh indahnya.
Berjuta rasa yg ku simpan.
Aku kagum !
Mengaguminya dari sisi gelapku.
Selalu di mana dia berada akan selalu ku kagumi.
Seolah indahnya tak akan pernah redup di mataku.
Dia yg tak pernah menyadari keberadaanku.
Tenanglah, aku tak akan mengusikmu.
Hatiku pun tak akan pernah sampai menyentuhmu.
Biar ku pendam semua hasratku.
Bersinarlah terus seperti bintang Polaris di sana.
Terangilah malam gelapku dengan cahaya pesonamu.
Hanya rangkain kata ini yg bsa ku tulis mewakili semua yg ku rasakan.
Entah sampai kau bertahan di hatiku.
Entah sampai kapan pesonamu bersinar.
Jika itu telah hilang atau meredup.
Biarlah kau menjadi kenangan dalam hatiku.
Tapi sayang, kau tak bertanggung jawab atas rasaku.
Sepatu converse, pesona senyummu, matamu, dan alismu yg tidak di miliki siapapun.
Semua tentangmu Dally nugraha yg membuatku terpesona akan indahmu ! 

Goresan Maret Akhir

Alhamdulliah, akhirnya selesai juga Puisi Maret ini..
Huhhh, walau masih amatiran..
Nikmati sajalah yang ada..
Big thanks to inspirasiku..
Sepi, Luka, Pedih, Perih dan juga Someone charming itu D****
ada sedikit goresanku untukmu :)

Sajak #31: Berakhir Disini

Ku titipkan semua rasa ini pada akhir sajakku.
Teruslah bersinar, walau semua redup.
Jadilah sinar yg terus membuatku hidup.
Salam hangat peluk dan kecup untukmu.

Sajak #30: Letih Hati

Bibir ini sudah lama membeku.
Hati ini semakin layu.
Semua hilang dan mati seluruh.
Indah purnama sirna sungguh.
Tak ada lagi kata yg terucap.
Aku hilang dan terperangkap.
Keheningan menyiksa diri.
Bersama luka yang ku coba obati.
Walau pedih dan perih datang silih berganti.
Ku basuh luka sepi sepenuh hati.
Hampa di hati selalu bertahan di sini.

Sajak #29: Tegar

Luka  sudah  letih  bertahan di sini.
Terlalu lama menggerogoti hati.
Hingga hampa tersisa menghiasi.
Aku dan senyum ini.
Senyum siapa ini?
Tak  menyiratkan  apapun.
Walau hati selalu sepi.
Racun sudah terlanjur menjalar.
Tapi, aku tetap tegar.

Sajak #28: Kau dan Sajakku

Aku tak sehebat penyair atau pujangga.
Tapi aku punya ini sajak untukmu.
Walau kau tiada mengerti arti sajak ini.
Ku tahu pasti ini sajak ada arti.
Kaulah satu - satunya inspirasi di hati.
Mengertilah kata demi kata.
Resapi dengan indah bait demi bait.
Kau pasti akan menemukannya.
Karena di setiap bait ku buat dengan pesonamu.
Di setiap bait tergambar senyum indahmu.
Dan di sajak ini mengalir seluruh cintaku.
Mengertilah semua ini untukmu, semua ini menyatu denganmu.

Sajak #27: Cinta itu??

Cinta datang dan pergi silih berganti.
Aku masih termangu di sini.
Tak mengerti apa yg terjadi.
Tak tau apa yg ku lewati.
Semua seperti angin lalu.
Baru datang, lalu cepat pergi.
Tak di undang dia datang di sini.
Ku mencari dia pergi.
Dan aku masih tak mengerti apa yg kau beri?
Bukankah kau hanya memberi luka dan pedih di hati?
Mana janji manis yg ku dengar setiap kali?
Apa itu hanya omong kosong tiada arti?
Tenang, aku selalu di sini dan tak akan pernah mengerti.

Sajak #26: Hampa Sepi

Disudut jalan ku terpuruk sendiri.
Tak dapat kupungkiri.
Seperti hidup sendiri.
Di alam yg liar ini.
Tak ada yg mau menemani.
Hati bersenandung dengan luka hati.
Kepedihan yg selalu menyatu di hati.
Ku pelihara luka ini.
Ku basuh setulus hati.
Tapi, belum ada yg mengobati.
Aku tersenyum dengan semua ini.
Kau tau aku tak mengerti.
Dan akan terus ku jalani.
Tak  peduli berapa banyak nestapa datang silih berganti.

Sajak #25: Menanti Sepi

Purnama sudah ku lewati
Mengapa kau tak kunjung tiba.
Sepi menyanyi di malam yg sunyi.
Hanya bayangan samarmu cinta.
Berteman kepedihan kunikmati.
Siapa peduli akan hati ini.
Dia sudah layu dan mati.
Tak ada sesuatu yg mengisi.
Kau yg membawa semua itu pergi.
Dan tak kembali.
Tiada yg tersisa di hati ini.
Semuanya mati dalam sepi.

Sajak #24: Harapan Kosong

Seperti bayangan yg sulit ku gapai.
Semakin dekat diriku, semakin jauh cintamu.
Terjatuh aku dalam keheningan hati.
Hening dan sepi yg menyiksaku.
Kau pun tak kunjung datang dengan cintamu.
Sulit ku terima dengan akal sehatku.
Mengapa kau hadir dalam hidupku.
Kau tawan hatiku.
Kau tumbuhkan rasa dan harapan untukku.
Kau pergi begitu saja, saat aku mengharapkanmu.
Jika kau tak inginkan aku.
Tuhan, coba lihat aku !
Berilah aku jawaban atas jalan ceritamu.
Berilah aku penegertian atas rencanamu.
Agar aku dapat menerima dan mengikhlaskannya.
Pergilah sesuka hatimu.
Terbanglah bebas seperti kupu – kupu di sana.
Doaku akan selalu menyertaimu.

Sajak #23: Kesepian ini

Sejenak aku terdiam sepi.
Biar sepi ini, menyatu di hati.
Dalam darah dan juga nadi.
Sungguh apa yg ku cari.
Cinta pun tak akan bertahan lama di sini.
Melihat ku tak beradaya sepi.
Nestapa pun datang silih berganti.
Hati tua ini masih menanti.
Entah menanti apa, menanti yg tak berarti.
Hari sepi selalu ku lewati.
Kapan cinta itu menghadiri?
Aku sudah bosan, berteriak dalam sunyi.
Siapa peduli?
Dan aku mati dalam sepi sendiri.

Sajak #22: Ingin Kembali

Dalam hujan ku bernyanyi.
Dalam badai ku menari.
Tiada henti kaki ini berlari.
Diiringi indahnya symphoni.
Langit dan bumi pun menjadi saksi.
Bercengkrama dalam malam sunyi.
Hingga tiada yg berkutik di sini.
Merajut sang malam hingga terbit matahari.
Aku masih setia di sini.
Untuk merajuk kembali cinta dengan pujaan hati.

Sajak #21: Rasa itu

Rasa itu tumbuh di hati.
Perlahan menjalar di nadi.
Membesar dan semakin besar.
Entah di mana itu akar.
Bagai burung dalam sangkar.
Bayang dirimu semakin samar.
Ku cari dalam hujan badai yg menggelegar.
Langkahku tak akan gentar.
Walau diri ini sudah terkapar.
Semua sudah mati dan layu juga si mawar.
Kaki – kaki ini menjadi semakin kasar.
Terus bergelut dalam kemelut di hati.
Hingga tak dapat apa yg ku cari.

Sajak #20: Kembalinya Pesonamu

Hinggar binar pesona itu.
Kembali mengoyak hatiku.
Terlena akan kemilau pesonamu.
Hingga terlelap dalam angan butaku.
Hati kembali, terobek pedih.
Pasti dia berteman nestapa dan perih.
Enyahlah kau !
 Kau hanya angan buta untukku.
Aku tidak peduli hati ini
Hati yg selalu berpeluk kepedihan sepi.

Sajak #19: Merindu

Tak ku pandang pesona indah itu.
Sungguh aku telah merindu.
Rindu itu berkumpul, menyesakan dada.
Bergelut dalam hati dan jiwa.
Megalir lembut dalam aliran darahku.
Dan berakhir pada hembusan nafasku.

Sajak #18: Siapa Kamu?

Kau datang dan pergi seperti hantu.
Abaikan aku.
Anggap aku sebagai angin lalu.
Tak apa, kau tetap dihatiku.
Bagai karang di terjang ombak masa lalu.
Aku tak pantas ada di hati mu.
Bertelanjang kaki melewati jalan beku.
Hati pedih tersayat pilu.
Kau pergi dan aku rindu.
Kau datang membawa luka di hatiku.
Siapa kamu?
Aku tak tahu.
Kau seperti binatang tak tahu malu.
Tak mau bertanggung jawab atas rasaku.

Sajak #17: Semua Hilang

 Kau masih terdiam di sana.
Di temani sepi, berbicara kalbu.
Aku masih mengharapkanmu cinta.
Harapan yang selalu bertahan dihatiku.
Harapan buta, tak pernah sejalan dengan nyata.
Hingga pedih dan perih menjadi sahabatku.
Tak  ada kebahagian yg kau beri, cinta.
Hatiku semakin dingin membeku.
Siapa peduli hati yg nesatapa.
Dia terobek  pedih, hingga derita terus merayu.
Sulit ku percaya kau masih bertahan membawa semua cinta.
Dan tak ada lagi cinta yg tersisa di hati pilu.

Sajak #16: Gadis Manis

Berlari telanjang kaki.
Riak ombak menggelitik kaki.
Mencari kegalauan yg tak bertepi.
Hingga ditemani sepi asyik sendiri.
Dengan rambut indah yg tergerai.
Ditiup angin laut, gadis manis tersenyum sepi.
Sepi yg menggerogoti, dia tidak peduli.
Bersenandung di temani nyanyian ombak sunyi.
Gadis manis berlari tiada henti, dia lebih tidak mengerti.
Tersenyum dan menyimpan berjuta perih di hati.
Dan tertatih menuju matahari.

Sajak #15: Merengkuh Purnama

Aku ingin kau !
Ingin memeluk dan merasakan hangatmu.
Seperti kayu bakar dalam tungku.
Percikan bara yg menghangatkan jiwaku.
Hati galau siapa ini?
Kau tak kunjung datang disini.
Hingga kalbuku menyimpan rindu dan pedih yg tak berperi.
Rindu yg membuncah megeluarkan hasrat cinta ini.
Aku ingin kau !
Kau terus berlari dalam angan dan nyata.
Berlari riang menuju purnama.
Hingga sulit aku menggapainya.
Bagaikan merengkuh purnama.

Sajak #14: Bukan pujangga atau penyair

Biarlah tangan ini terus menulis,
Selama dia masih mampu.
Biarlah aku seorang penulis sajak amatir berkarya.
Bukan pujangga juga penyair.
Bukan juga chairil anwar atau W.S rendra.
Aku hanya aku dengan beribu imaji.
Yang menggoreskan apa yg ku rasakan.
Yang tak tersampaikan oleh kata – kata.
Dan berakhir di sajak ini.
Aku dan sajak – sajak butaku.
Buta karena aku hanya seorang amatiran.
Yang juga ingin seperti mereka yg  karyanya di kenang.
Dan kalian yg tertawa membaca sajakku.
Dan aku yg tak akan pernah berhenti untuk selalu menulis.

Sajak #13: Kau seperti pagi

Kau tau apa yg ku suka darimu.
Kau seperti pagi.
Kau hadir seperti pagi yg indah dalam hidupku.
Dalam mendung di hatiku berteman sepi.
Kau hapus mendung hitam dari hatiku.
Kau balut lembut luka yg masih menganga dihati.
Kau basuh tulus dengan indahnya cintamu.
Cinta, kau berikan pagi indah dihati.
Hingga tiada lagi luka terobek pedih di kalbu.
Dan kau lukiskan pelangi di hati ini.

Sajak #12: Dirimu dan Anganku

Mengapa aku masih memikirkanmu?
Bisakah kau pergi dari fikiranku.
Beranjak dari angan dan imajiku.
Aku tau kau tak bisa memberikan cinta untukku.
Ataupun setitik rasamu.
Aku tak tau apa mau bayanganmu.
Yang selalu menghantui dan hadir dalam anganku.
Sudah ku sadarkan diriku,
Tapi angan angan tetap kurang ajar padaku.
Semakin ku menepis indah bayangmu.
Semakin nyata dan besar inginku.
Aku benci angan – angan, yg terlalu berbeda jauh dengan kenyataan hidupku.

Sajak #11: Innocent Morning

Sejuknya embun di pagi buta.
kemilau tetesnya yg bening.
Angin lembut yg menyapa dan menggelitik.
Suasana pagi yg sungguh menggoda.
Alam yg selalu menebarkan pesona keindahannya.
Hingga terbuai, dan menari bersama para ilalang.
Gemerisik suara daun dan ranting.
Dentingan gerimis pun bernyanyi pagi ini.
Membawa wangi hujan yg selalu ku rindukan.
aku masih bermain dengan ilalang yg menari.
Menikmati gerimis yg turun perlahan,
Sejuk membahasi wajahku.
Semua tersenyum, pagi yg ku nanti.
Seakan ku tak ingin pagi ini pergi ke peraduannya.
Sungguh Maha dahsyat ciptaanMu ya rabb.
Semua tidak akan pernah luput dr pandanganmu.
Hingga kau suguhkan pelangi dengan keindahan pesonanya.
Begitu sempurna, lukisan alam pagi ini.

Sajak #10: Tak Akan Lagi


Aku tak sanggup lagi cinta.
Kau selalu menjauh.
Dan aku selalu berusaha menggapaimu.
Cinta, aku lelah.
Mendekatlah Cinta.
Beri aku kehangatan cinta.
Beri aku kebahagian.
Agar aku dapat merasakannya cinta.
Merasakan indahmu.
Cinta, aku terjatuh.
Dan engkau semakin jauh dariku.
Cinta, kau hilang.
Belum sempat aku merasakannya,
Mengapa pahit yg ku dapat.
Mengapa luka yang kau beri.
Mana kehangatanmu?
Aku merasa dingin dan membeku,
Dapatkah kau mencairkan dan meluluhkannya.
Cinta, sekarang aku tak akan mengejarmu.
Jika ku kejar, kau akan menjauh.
Dan bila aku menanti,
Kau pun tidak datang.
Tapi, aku yakin kau akan datang.
Pasti suatu saat nanti.
Ku yakin cinta, kau akan datang kepadaku.

Sajak #9: Imaji

Biarkan jari ini terus menari,
Menulis sajak – sajak buta yg tiada arti.
Tentang semua imaji yg ada.
Imaji indah yg melebihi keindahan sang pelangi.
Melibihi indanya senja yg melukis  cakrawala.
Imaji yg tiada bertepi,
Hidup dalam fikiranku.
Dan tertuangkan dalam tulisanku.
Imaji tentang keindahan cinta,
Tanpa pernah ku merasakan indahnya cinta.
Imaji tentang sesuatu yg mungkin tak pernah ku alami.
Biarlah imaji ini terus mengalir.
Hingga berakhir dalam sajak – sajak butaku.
Bermainlah imajiku,
Aku slalu bahagia bersahabat denganmu.


Sajak #8: Ingin Hidup

Lelah akan kejamnya hidup ini.
Selalu ku jalani tanpa tau apa yg harus ku raih.
Ku mencari tanpa tau apa yg selama ini ku dapat.
Ku jalani semua ini, dan aku tak mengerti.
Berilah arti pada hidupku !
Agar aku bisa lebih merasa hidup.
Lebih bisa mengerti apa yg harus ku jalani.
Dan lebih merasakan artinya hidupku.
Ku menanti di peliknya kehidupan.
Sesuatu yg bisa memberi arti pada hidupku.
Entah kapan, aku ingin merasa hidup !
Bukan hanya sekedar imaji atau angan belaka.
Tapi kenyataan yg bisa membuatku hidup !

Sajak #7: Someone Special

Ku kenang indah bayang wajahmu.
Terbayang selalu dlam setiap lamunanku.
Tertulis indah namamu dihatiku.
Teringat hangat seyumanmu.
Terseyum, bila mengingat saat indah bersamamu.
Walau kau tak kan bisa ku gapai.
Aku bahagia,  selama aku bisa melihatmu.
Tertawalah, tersenyumlah, bersinarlah.
Bersama indahmu yg tak akan pernah redup.
Mungkin kau lebih dr indah.
Tak akan sampai hatiku untuk menyentuhmu.
Terbanglah bebas seperti kupu – kupu.
Terbarkan pesonamu.
Hingga aku terhanyut dalam kilauan indahmu.
Dalam fantasi yg tiada ujung.
Dalam labirin fatamorgana yg menawarkan sejuta keindahan.
Biarkan aku terlelap dalam imaji tentangmu.
Tentang sejuta rasa yg tak tersampaikan oleh kata.
Hingga berakhir indah dalam sajak – sajak butaku.    

Sajak #6: Perbedaan

Tuhan mengapa ada perbedaan,
disaat aku dan dia bersatu.
Tuhan mengapa ada perbedaan,
pdahal kita saling cinta.
Tuhan mengapa ada perbedaan,
padahal kita sama.
Tuhan mengapa ada perbedaan,
disaat aku merasa dialah yang paling tepat.
Tuhan mengapa ada perbedaan,
jika kau hadirkan dia dalam hidupku.
Tuhan mengapa ada perbedaan,
jika dialah bahagiaku.
Tuhan mengapa ada perbedaan,
dalam dunia yg kejam ini?
Tuhan mengapa ada perbedaan,
dalam cinta yg indah ini.
jawab tuhan !

Sajak #5: Tatap aku !

Tataplah aku.
aku sepi, aku terbuang.
Tataplah aku.
Bawalah aku pergi dr semua ini.
Tataplah aku.
Beri aku kebahagian, walau fana.
Tataplah aku.
Beri aku sedikit cinta, walau semu.
Tataplah aku.
Beri aku senyum, walu pahit.
Tataplah aku.
Hingga kau menjadi aku.
Tataplah aku.
Genggam tanganku, dan rasakan.
Tataplah aku.
Beri aku kehidupan, walau sesaat.

Sajak #4: Pesona Indahmu

Dia yg indah.
Yg selalu mebuatku terpesona akan keindahannya.
Begitu indah ciptaanMu
Hingga aku hanya bisa mengaguminya dr sisi gelapku.
Selama aku bisa memandang indahmu.
Selama itu juga kau membuatku tersenyum.
Tersipu ketika kau melihatku.
Menyimpan sejuta rasa yg tak tersampaikan.
Sampai aku membuang semua rsa itu.
Karena aku yakin aku tak akan smpai untuk semua itu.
Tenanglah saja, abaikan saja semua rasaku.
Anggap aku tak ada dan teruslah menjadi indah.
Teruslah bersinar, karena aku akan selalu mengagumi
indahmu dr sisi gelapku.

Sajak #3: Pilihan Hati

Biar pujangga merangakai sajak - sajak indahnya.
Dalam kata yg tersirat berjuta makna.
Dalam kesederhanaanku mencintaimu.
menyiratkan sejuta tanya.
dari kegalauan di hati.
Dan tak ada cinta yg tersisa dijiwa.
Menyisakan hampa.
Ditemani sepi.
Bersenandung dengan okestra malam sunyi.
Tersimpan rindu yg tak terkira.
hasrat membuncah tak tertahan.
menyiksa, menyesakan dada.
dan byar ku titipkan sejuta rindu ini pada angin.
Hingga berhembus pda tempatnya.
Ku yakin dia tak akan tersesat.
Walau melewati badai dan malam sunyi.
Karena ku yakin cintaku selalu untukmu.
Hingga sampai saatnya nanti.
Sampai pujangga berhenti merangkai sajak - sajak indahnya.
Engkau akan tetap menjadi indah yg sempurna.
Engkaulah yang terindah pilihan hatiku.

Sajak #2: Tidak ada inspirasi !


Dalam sisi gelapnya kehidupanku.
Hampa menguasai.
Sepi menemani.
Aku diam tak berdaya.
Berlari sekencang angin.
Menentang sang badai dalam malam yang sunyi.
Gemuruh suara kilat menyiksa batin.
Hingga tertatih menuju matahari.
Terjatuh dalam kehampaan tak bertepi.
Hari pun menangis merdu.
Tidak ada inspirasi.
Dan aku masih bercumbu dengan sajak – sajak ini.

Sajak #1: Tentang Sepi

sepi, biar aku tulis sedikit tentangmu.
jangan marah, kau memang menakutkan.
tpi, aku senang bersahabat denganmu.
hening,
gelap,
sunyi.
pergilah kau ramai.
aku tak butuh.
aku hanya ingin sendiri.
pergi dari kehidupan yg rusuh ini.
bersama temanku sepi.
ku nikmati hari - hari kejamku.